
Mahasiswa Informatika Telkom University Latih Siswa SMK Negeri 4 Bandung Gunakan AI Secara Etis dan Produktif
Bandung, 8 Mei 2026 — Tim Informatika untuk Masyarakat (IUM) Kelompok IUM26-080
Lima mahasiswa Program Studi S1 Informatika, Fakultas Informatika, Universitas Telkom, menggelar pelatihan literasi digital bertajuk “Etika dan Penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang Produktif dan Bertanggung Jawab bagi Siswa SMK Negeri 4 Bandung”. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 8 Mei 2026, pukul 07.10–09.10 WIB ini menyasar siswa kelas 11 Teknik Audio Video SMK Negeri 4 Bandung dan diikuti oleh 26 peserta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Informatika untuk Masyarakat (IUM) yang dijalankan oleh Kelompok IUM26-080, beranggotakan Mikal Arrezik (Ketua), Ameta Noveolyn, Fazri Ihza Pratama, Salsabilla Najwa Khasanah, dan M Dani Riadi, di bawah bimbingan Isman Kurniawan, S.Pd., M.Si., M.Sc., Ph.D., dosen dari Kelompok Keahlian Data Science and Intelligent Systems (DSIS) Universitas Telkom.
Menjawab Kesenjangan Etika di Era AI Generatif
Pesatnya adopsi AI generatif seperti ChatGPT dan Gemini di kalangan pelajar mendorong tim IUM26-080 untuk menyoroti isu yang kerap luput dari perhatian, yaitu kesenjangan antara kemampuan teknis penggunaan AI dan pemahaman etis di baliknya. Sebagai sekolah dengan fokus teknologi informasi dan komunikasi, siswa SMK Negeri 4 Bandung dinilai memiliki literasi digital yang relatif baik, namun belum seluruhnya memahami batasan wajar penggunaan AI dalam konteks akademik.
Tanpa pemahaman yang memadai, penggunaan AI yang tidak tepat berisiko memunculkan plagiarisme, ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, serta menurunnya kemampuan berpikir kritis. Risiko ini diperparah oleh keterbatasan AI itu sendiri, seperti bias algoritma dan fenomena halusinasi, yang dapat menyebarkan informasi keliru apabila tidak disikapi secara kritis oleh penggunanya.
Tiga Pilar Materi: Demistifikasi, Etika, dan Prompt Engineering

Workshop interaktif ini dirancang dengan pendekatan teknis sekaligus humanis, terbagi ke dalam beberapa sesi:
- Demistifikasi AI (±30 menit) — Memaparkan cara kerja AI secara sederhana sebagai komputasi matematis dan prediksi pola data, agar siswa memahami bahwa AI tidak memiliki pemahaman kognitif layaknya manusia dan tetap berpotensi melakukan kesalahan.
- Etika dan Integritas Akademik (±20 menit) — Diskusi interaktif yang menegaskan batas antara brainstorming (mencari ide), proofreading (memperbaiki tata bahasa), dan plagiarisme (menyalin keseluruhan ide dan teks).
- Praktik Prompt Engineering (±60 menit) — Siswa berlatih menyusun perintah (prompt) yang spesifik agar AI dapat berperan sebagai tutor pribadi, misalnya meminta penjelasan konsep melalui analogi, bukan sekadar meminta jawaban instan.
- Post-Test dan Kuis Berhadiah (±10–15 menit) — Evaluasi pemahaman melalui soal pilihan ganda, ditutup dengan kuis interaktif yang disambut antusias oleh para siswa.
Materi prompt engineering tercatat menjadi sesi favorit peserta. Pada sesi ini, siswa tidak hanya berlatih menyusun prompt yang baik dan benar, tetapi juga mempresentasikan hasilnya di depan kelas, menciptakan suasana belajar yang aktif dan partisipatif.
Lebih dari 80 Persen Peserta Beri Penilaian Positif
Berdasarkan kuesioner evaluasi berbasis skala Likert yang diisi oleh 26 peserta melalui Google Form, mayoritas responden memberikan penilaian sangat positif terhadap pelaksanaan kegiatan. Sebanyak 53,8 persen peserta menyatakan sangat setuju dan 26,9 persen setuju bahwa materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Aspek kejelasan penyampaian materi memperoleh apresiasi tertinggi, dengan 96,2 persen peserta menyatakan setuju maupun sangat setuju bahwa materi mudah dipahami.
Tidak ada satu pun responden yang memilih opsi tidak setuju atau sangat tidak setuju pada seluruh aspek yang dievaluasi, mulai dari kesesuaian waktu pelaksanaan, kualitas pelayanan panitia, hingga harapan keberlanjutan program. Bahkan, 61,5 persen peserta menyatakan sangat setuju agar kegiatan serupa terus dilanjutkan di masa mendatang.
Selain capaian kuantitatif, tim penyelenggara turut mengamati adanya indikasi perubahan pola pikir peserta. Sebelum mengikuti pelatihan, sebagian besar siswa cenderung memanfaatkan AI untuk menyelesaikan tugas secara instan tanpa proses verifikasi. Setelah kegiatan, siswa mulai memahami batasan penggunaan AI dalam konteks akademik, pentingnya memverifikasi informasi yang dihasilkan AI, serta memposisikan AI sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir.
Berpotensi Berlanjut Lewat Kurikulum dan OSIS
Kegiatan yang diresmikan melalui berita acara serah terima bersama Kepala SMK Negeri 4 Bandung, Yudi Kartiwa, S.Pd., S.ST., M.Pd., ini menghasilkan sejumlah luaran, di antaranya slide materi, modul pelatihan dalam format PDF, publikasi di media sosial, serta dokumentasi video kegiatan. Modul yang disusun tim diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam silabus mata pelajaran Informatika atau dijadikan panduan standar integritas akademik di sekolah tersebut.
Tim IUM26-080 turut berharap kampanye etika digital ini dapat dilanjutkan secara mandiri oleh OSIS SMK Negeri 4 Bandung dalam bentuk edukasi literasi digital berkala bagi siswa baru pada tahun-tahun ajaran mendatang, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi siswa berikutnya.